Jumat, 14 Oktober 2011

Terlambat


Di sudut mana kelelahan itu tampak, apa kau melihatnya?
Seberapa lama ia memeluk rindu, apa kau menghitungnya?
Dengan siapa ia berjalan di tengah keramaian , apa kau menemaninya?

Lalu,
Sejauh apa ia menyadari bahwa dunia ini hanyalah sandiwara
Permainan alur kehidupan, dan ia sebagai pemeran utama
Bukan tentang menang atau kalah, kuat atau tidak kuat
Ataukah ia tak sadar jika gelembung sabun yang indah itu sudah meletus di udara
‘plop’ pecah, dan hilang, lenyap, tiba-tiba…
Ini masanya, ya!
Suatu waktu di mana pesakitan itu datang
Suatu waktu di mana ia menyadari bahwa cinta terkadang tidak rasionalis

Ia menuliskan mu pada sebuah kata, merangkainya dalam sebuah sajak
Seakan tak pernah habis, kamu mewakili setiap coretan  di dinding kamarnya
Perjalanan panjang yang membawanya pada suatu titik
Titik di mana ketika ternyata kamu sudah benar-benar lelah dan ia mulai berjuang
Terlambat !

Selebihnya, apa arti mencintai?
Terbatas oleh hati yang lelah dan akhirnya menyerah?
Bukankah kau yang mengajarkannya tentang cinta
Terlambat !


"bahkan di sini masih berdiam, sesuatu yang dulu kau sebut cinta"


Sabtu, 08 Oktober 2011

Kamu,wanitaku #1


Siang ini, Surabaya sedikit bersahabat, jalanan tampak sedikit lengang, beberapa kafe yang buka di siang hari pun terlihat kosong. Aku putuskan memasuki salah satu kafe favoritku. Ditemani semangkok cappucino hangat, butter croissant, dan Dunhill Menthol, aku siap dengan kesibukanku sendiri.
Bersandar pada sebuah sofa merah, menikmati suasana kafe dan melihat jalanan dari balik kaca, membuat aku melayangkan lamunanku, aku biarkan ia melanglang siang itu.
Kubuka laptop, dan aku pun mulai menulis, membiarkan jariku menari di atas tuts keyboard mengikuti jalan pikiranku...


"Jejak langkahmu yang memberiku kekuatan,
yang menunjukkan ketulusan, yang mengajarkanku bagaimana memuliakan cinta.
Sungguh tak ingin ku akhiri semuanya.
Sadarilah aku di sini, dan semua kenangan kita"

Bulan Oktober, memasuki bulan ke 4 sejak dia benar-benar pergi dari kehidupanku, lebih tepatnya untuk cintanya yang sudah tidak lagi berlindung di bawah sayapku.
Tiba-tiba pelayan kafe mendatangiku, menanyakan apakah aku membutuhkan asbak, karena mungkin sedari tadi ia memperhatikan jariku yang sibuk mengetik dengan menjepit rokok yang abu nya mulai berjatuhan di meja kayu ini. Well, pelayan yang cukup baik, tapi apakah kisah cintanya juga sebaik hatinya? Haha, ngaco! sedikit intermezzo untuk meregangkan pikiran...


"Akankah semua percuma, hilang tak berarti.
Kini kau pergi, tinggalkan ku. 
Kau lepaskan cinta, yang dulu begitu kau muliakan
Menghapus ukiran cinta di hati dan hidupku"

Aku pun melanjutkan lamunanku, sambil sesekali terpejam, bergumam, dan merasakan kembali masa-masa itu. Ya, di tengah lamunanku, aku sadar, sakit yang aku rasa sekarang, tidak sebanding dengan kesakitan yang kau rasa selama perjalanan panjang kita.
Karena kamu sudah lelah, lelah atas sikapku, lelah atas kekecewaan, atas sakit dan air mata. Perjalanan panjang, pengorbanan dan kasih sayang, cinta dan ketulusan, perhatian dan emosi. Sedangkan aku, masih tetap berdiri dengan segala keegoisanku.Namun, jauh dari itu semua, aku tulus menyayangimu. Mungkin, aku hanya kurang peka mengerti perasaanmu. Sayangku....

Terlihat sepasang remaja yang baru saja memasuki kafe ini, melihat mereka yang berpasangan selalu mengingatkanku padamu. Remaja putri itu terlihat menggelayut manja di pundak kekasihnya. Matanya menyorotkan kenyamanan, merasa aman selama tangan sang kekasih memeluknya. Hal itu juga yang dulu kulihat di sorot matamu. Sepasang mata indah yang memberikan banyak arti. Ya, dan bisa ditebak, mereka duduk tepat di depan tempat saya. Hem, baiklah, saya anggap ini adalah selingan kecil. Sayapun melanjutkan tulisan ini...
 
 "Jalinan cerita cinta yang kita rajut, terhempaskan tanpa sempat ku cegah.
Keindahanmu kini tak lagi di sisi. Cahaya hatikupun meredup seiring kepergianmu. Ku bertanya pada bulan, inikah akhir cerita cintaku?"

Sebagai manusia biasa, saya pun juga merasakan kesedihan, ketika harus berpisah dengan orang-orang yang kita sayang, apapun bentuknya, perpisahan tidak pernah menjadi sesuatu yang menyenangkan. Penyesalan itu pun datang, setelah semuanya terjadi dan terlambat. Yang saya ingin, tetap menjaga cinta ini, menyimpan semua kenangannya, membawanya dalam hati saya, dan menyebutnya di setiap doa...


"Sungguh tak sanggup, ku menahan perih ini. Berat hati ini melepasmu, namun ini bahagiamu. Sungguh tak sanggup, takkan pernah bisa. Menepis kenangan kita, meredam rindu dan asa.
Yakini cinta ini hanya untukmu. Selamanya…."



23rd July 2009